Jujur, sejak mulai kerja di Malang 4-5 tahun lalu, baru kali ini saya antusias mengikuti berita pra musimnya Arema. Tapi bukan pada siapa-siapa pemain baru yang masuk, tapi lebih pada pola latihan yang diterapkan sang pelatih: Ebes Gomez, demikian nawak-nawak aremania menyebutnya.
“Selama latihan sepakbola, baru kali ini saya latihan secapek ini.” ucap Teguh Amirudin setelah menjalani latihan perdananya.
Memang perubahan terbesar Arema untuk persiapan musim ini ada pada latihannya. Tampak latihan fisik ala militer harus dilahap semua pemain. Hal yang sangat bertolak belakang dengan musim lalu yang terlihat lebih santai.
Pola latihan seperti ini, menurut saya, adalah kunci utama Arema bisa berbuat banyak di Liga 1 musim ini. Mengapa? Karena pemain yang ada sekarang bukan pemain-pemain nomor satu. Ini harus diakui. Kalau dibandingkan dengan transfernya Persija, Persikabo, Bhayangkara, Bali United tentu Arema kalah banyak.
Dan itu memang bisa dimaklumi, sebab managemen sudah berujar sejak awal bahwa untuk tahun ini investasi lebih diutamakan pada jajaran pelatih. Dibuktikan dengan berhasil memboyong Gomez ke Malang, sesuatu yang membuat kaget managemen klub lain karena tahu betapa mahalnya pelatih ini.
Setelah datangnya Gomez, praktis pemain yang datang ya biasa-biasa saja. Hanya ada Bagas Adi dan KH Yudo yang mungkin cukup menonjol. Pemain asing? Hanya Bauman dan Kyun Ohn yang saya rasa sudah pasti menyegel posisi inti, sementara Alderete dan Malvino belum tahu sepak terjangnya seperti apa.
Nah, bukan bermaksud apa-apa, tapi kayaknya memang sulit kalau mengandalkan skill individu pemain untuk bertarung di Liga 1 nanti.
Lantas, apakah kekurangan itu akan membuat Arema sulit bersaing di papan atas? Tidak juga.
Mungkin ini pula yang dibaca Gomez melalui latihan semi militernya, bahwa Arema ke depan akan mengedepankan fighting spirit ketimbang skill. Sambil memberi warning bahwa ia hanya akan memainkan pemain yang mau bekerja keras, tak peduli pemain muda atau senior. Cocok wes karo gaya bal-balan Ngalam seng ngeyel, lugas, tanpa kompromi.
Dan bisa dipahami pula mengapa Gomez memberikan harga mati kepada managemen untuk mendaratkan Bauman ke Malang. Karena pemain yang sudah dikenalnya inilah yang diharapkan menjadi pembeda di lapangan dengan kualitasnya yang di atas rata-rata.
Maka, harapan besar aremania untuk bisa melihat Arema berprestasi musim ini ada 2, yaitu tim pelatihnya, dan kedua aremania itu sendiri.
Mengapa aremania? Ya ini feeling saja, hehe. Mau atau tidaknya aremania memenuhi tribun Kanjuruhan setiap pertandingan, bahkan di laga away, menurut saya adalah satu dari 2 penentu kesuksesan Arema musim ini.
0 Komentar