Gambar di atas adalah tangkapan layar dari postingan kang Deni ranoptri di akun facebook-nya tanggal 22 Februari 2020.
Tau kan Deni ranoptri?
Bagi anda guru yang aktif mencari bahan-bahan pembelajaran di dunia maya, sulit rasanya dipahami jika tidak mengenal sosoknya.
Beliau adalah penulis blog yang membagikan banyak hal seputar pembelajaran. Pokoknya kebutuhan teknis guru di dalam kelas semua dibagikan olehnya.
Sampai-sampai saya pernah mereview blog miliknya, gurusd.web.id (waktu itu masih gurusd.net) dan saya anggap juara satu untuk blog pendidikan. Karena saking lengkapnya, seperti tidak memberi peluang blogger baru seperti saya untuk membahas topik baru apa yang bisa saya tulis di blog, hehe.
Kembali ke postingan fb Kang Deni atas, bagi sebagian orang, khususnya pengikut fb nya, postingan di atas mungkin biasa saja. Paling ya dapat info baru, "Oh, jadi format RPP 1 halaman itu begini."
Tapi tidak bagi saya. Saya mungkin adalah yang paling bahagia melihat postingan itu, hehe. Kenapa
Awal Januari lalu, saya pernah membuat RPP 1 halaman yang kemudian saya bagikan di blog. Waktu itu memang lagi booming tentang rpp 1 halaman, karena ada edaran dari Mendikbud.
Nah, format RPP yang saya bikin itu sengaja saya buat tampilan yang agak berbeda. Saya bikin mirip-mirip infografis. Atau mirip brosur, entahlah, pokoknya saya ingin agak berbeda.
Di pikiran saya, kalau memang merdeka belajar, maka ya bikin Rpp harusnya merdeka. Kalau mereka bisa mengubah aturan format Rpp yang berlembar-lembar itu menjadi 1 halaman, kita para guru boleh dong mengubah tampilan Rpp menjadi lebih fresh dan enak dipandang.
Ternyata, format Rpp seperti ini yang dicontohkan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemdikbud. Terima kasih kang Deni atas infonya!
Sampai saat ini, saya belum tahu adakah guru lain yang mencoba berinovasi dengan Rpp nya. Tapi mudah-mudahan ke depan semakin banyak.
Ini penting, sangat penting. Karena sebaik apapun konten Rpp jika tampilannya konvensional berupa tulisan bertumpuk-tumpuk, tidak akan terbaca oleh guru. Percaya sama saya! hehe.
Paling guru ya bikin Rpp (itupun kalau mau bikin sendiri), trus ya sudah. Jarang yang sampai mengevaluasi Rpp nya. Rpp itu baru diteliti betul oleh guru saat ada supervisi atau pokoknya waktu guru itu dinilai.
Sebaliknya, jika Rpp itu simpel lengkap dengan tampilan yang enak dipandang, full color apalagi, maka kemungkinan guru akan lebih tertarik menelaah dan mengevaluasinya.
Syukur alhamdulillah, kebannggan kecil di Minggu pagi yang cerah ceria ini.
Salam literasi!

0 Komentar