Hari kedua Bimtek diawali dengan sarapan di hotel. Saya dibuat takjub sekaligus heran dengan banyaknya pilihan makanan yang disajikan. Rasanya semua terlihat enak, tetapi saya hanya bisa berpikir, ke mana perginya makanan yang pasti tidak habis ini? Sebuah refleksi kecil yang membuat saya merasa perlu lebih menghargai makanan.
Praktik Menggunakan NamoAuthor
Agenda hari kedua lebih banyak diisi dengan praktik penggunaan NamoAuthor. Sejak pagi hingga sore, kami belajar secara langsung bagaimana memanfaatkan software ini. Yang menarik, Kang Juonghyon, CEO Arasoft, secara aktif mendampingi peserta. Beliau berkeliling dari meja ke meja, memberikan arahan dan menjawab pertanyaan.
Bagi saya, sesi ini lebih kepada proses adaptasi dengan perangkat lunak baru. Sebelumnya, saya sudah cukup familiar dengan aplikasi pembuatan media seperti Photoshop, Canva, atau tools lainnya. Jika dibandingkan, fitur NamoAuthor masih terbatas dan membutuhkan banyak pengembangan.
Namun, keunggulannya adalah kemampuannya menghasilkan e-book interaktif dalam format epub3, sebuah format yang lebih canggih dibandingkan epub2.
Apresiasi untuk Karya Terbaik
Sesi praktik semakin menarik ketika diumumkan bahwa peserta yang mampu membuat e-book terbaik akan mendapatkan lisensi penuh NamoAuthor untuk seumur hidup. Sementara itu, peserta lainnya hanya akan menerima lisensi yang berlaku hingga 29 November saja.
Hal ini tentu menjadi motivasi tambahan bagi semua peserta untuk menghasilkan karya terbaik mereka.
Malam Pengumuman dan Kelas A
Di penghujung hari, diumumkanlah nama-nama peserta yang mendapatkan lisensi penuh. Sayangnya, saya tidak termasuk di antaranya. Mereka yang terpilih dimasukkan ke kelas khusus bernama Kelas A, sementara saya bersama peserta lain di Kelas B tetap berada di aula untuk presentasi karya e-book yang telah kami buat selama sesi praktik.
Berbincang dengan Pak Prapto
Setelah semua agenda selesai, saya menghabiskan malam dengan berbincang santai bersama Pak Prapto di lobi kamar. Dari obrolan itu, saya semakin kagum dengan beliau. Ternyata, beliau adalah seorang desainer gambar profesional dengan karya yang sudah banyak dipublikasikan, bahkan menjuarai berbagai lomba tingkat nasional. Beliau juga berbagi pengalaman mengikuti Bimtek dari Kemdikbud yang berhubungan dengan desain dan seni visual.
Pak Prapto berbicara tentang pentingnya menghargai hak cipta dalam setiap karya. Menurutnya, jika suatu karya dikomersialkan, maka sudah seharusnya karya itu tidak diambil secara sembarangan dari internet. Namun, ia juga menambahkan bahwa penggunaan untuk media pembelajaran yang tidak dikomersialkan masih bisa ditoleransi.
Refleksi ini membuat saya berpikir ulang tentang betapa seringnya guru, termasuk saya, menggunakan bahan dari internet tanpa mempertimbangkan hak cipta. Sebuah pelajaran berharga untuk lebih menghargai karya orang lain.

0 Komentar